Selasa, 12 Desember 2017
   EN   

I Info BKIPM

BKIPM bersama Masyarakat Selamatkan 7 Milyar Rupiah

Siang ini bertempat di Kantor Pusat Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) digelar Jumpa Press terkait Penanganan Kasus Pemasukan dan Pengeluaran Illegal Hasil Perikanan dan Pengungkapan Kasus Destructive Fishing yang berhasil digagalkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Kepolisian RI, Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, dan Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II. Selain itu, adanya keterlibatan aktif masyarakat membantu mengungkapkan apparat Pemerintah didalam mengungkapkan beberapa kasus sbb :  

1.    Informasi masyarakat terkait peredaran ikan Dori (ikan Patin) di pasar yang  diduga berasal dari luar negeri, BKIPM menindak lanjutinya dengan melakukan operasi bersama dengan Bareskrim Polri pada tanggal 26-28 April 2017, ditemukan fillet dori yang diduga berasal dari luar negeri di beberapa retail di Jakarta yang setelah dilakukan pengujian laboratorium oleh Balai uji Standard KIPM (BUSKIPM) yang hasilnya positif mengandung tripolyphosphate yang melebihi ambang batas dan dapat membahayakan kesehatan konsumen apalagi didapati adanya kemiripan DNA 98-100% dibandingkan dengan sequensing ikan dori impor yang dimiliki Laboratorium BUSKIPM yang diperkuat oleh LHU sampel dori lokal dan dori berlabel impor hasil operasi bersama yang diterbitkan oleh Laboratorium PT. Saraswanti Indo Genetech parameter tripolyphosphate menunjukan nilai 7.423.18 ppm dan 8.251.26 ppm, sedangkan batas maksimum  pada ikan dan produk perikanan adalah 2.000 mg/ kg.  Belakangan ini Amerika dan jaringan supermarket di Eropa mulai memperketat masuknya ikan patin dari Vietnam, sehingga memberikan peluang bagi patin Indonesia untuk berjaya di negerinya sendiri dan membuka ekspor untuk mengisi kekosongan pasar di USA dan Uni Eropa tersebut. Pengembangan kasus dalam tahap penyidikan.

2.    BKIPM bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berhasil menggagalkan pemasukan ikan beku/produk perikanan ilegal sebanyak 22.198 kg pada tanggal 16 Agustus 2017 yang diangkut dengan kapal KM. SINAR ABADI 5 di Pelabuhan Tembilahan Riau. Kapal KM. SINAR ABADI 5, berdasarkan informasi dari beberpa sumber diketahui merupakan kapal ex-Thailand, yang melakukan pengangkutan hasil perikanan dari Pelabuhan Telaga Punggur Batam dengan tujuan Pelabuhan Tembilahan Riau. Pengembangan kasus ini dilakukan di Batam sebagai pintu awal masuk impor ilegal tersebut. Setelah mendapatkan penetapan sita dari Pengadilan Negeri Batam, ikan tersebut dapat dimusnahkan atau dilelang untuk kepentingan negara. Kerugian negara yang ditimbulkan mencapai sebesar Rp. 7.058.045.000,-. Penyidik telah menetapkan tersangka DS, warga Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur. Perbuatan tersangka melanggar Pasal 6 huruf a. dan huruf c. UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, terhadap tersangka dikenakan ancaman pidana dengan kurungan penjara paling lama 3 Tahun dan denda paling banyak Rp. 150.000.000,- dan dijuntokan dengan pasal 20 dan 21 UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, terhadap Tersangka dikenakan ancaman pidana dengan kurungan penjara paling lama 1 (satu) Tahun dan denda paling banyak Rp. 800.000.000,-

3.             Penggagalan upaya penyelundupan Benih Lobster dari bulan Maret sampai dengan bulan Oktober  2017 sebanyak 1.876.087  ekor, dengan potensi kerugian sebesar Rp. 281.413.050.000,- (dua ratus delapan puluh satu milyar empat ratus tiga belas juta lima puluh ribu rupiah). Tempat kejadian perkara (TKP) adalah sebagai berikut:  1) Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang Banten; 2). Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar; 3). Bandara Internasional Lombok, Mataram; 4). Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta; 5). Bandara Raden Inten Lampung; 6). Bandara Haluoleo Kendari; 7). Bandara Hang Nadim Batam; 8). Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Tangerang, Banten; 9). Pelabuhan Bakauheni, Lampung; 10). Pelabuhan Merak, Banten; 11). Komplek Ruko Istana Mekar Bandung; 12). Dusun Selao, Kab. Lombok Tengah, NTB; 13). Perumahan Galaxy Jl. Pulo Sirih Selatan, Kel. Jati Mulya Bekasi; 14). Kawasan Pergudangan Bandara Soekarno Hatta; 15). Perumahan Citra Indah City, Jonggol, Kab. Bogor. selama periode 2 Maret s/d 5 Oktober 2017.

           Berdasarkan hasil penggagalan dan penindakan upaya penyelundupan BL tersebut, telah  ditetapkan 45 orang sebagai tersangka/pelaku, yang sebagian besar sudah inkrah/vonis di Pengadilan Negeri Tangerang, Lombok Tengah, Denpasar, Pangkal Pinang, Lampung, Sleman, Kendari, Banten, Bekasi dan Bogor. Sedang untuk kasus yang digagalkan di Pelabuhan Penyeberangan Bekauheni Lampung dalam proses penyidikan oleh penyidik  Direktorat Tipidter BARESKRIM POLRI  dan  PPNS BKIPM.

      Penggagalan penyelundupan BL di atas merupakan hasil kerjasama operasi antara BKIPM KKP dengan Direktorat Tipidter BARESKRIM POLRI, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Timur, Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolair) Polda Jawa Timur dan Polda Jawa Barat, KPU Bea dan Cukai Tipe C Bandara Internasional Soekarno-Hatta, AVSEC Bandara di bawah Kementerian Perhubungan, AVSEC Angkasa Pura I dan AVSEC Angkasa Pura II, Balai Besar KIPM Jakarta I, Balai KIPM Kelas I Denpasar, Balai KIPM Kelas II Mataram, Stasiun KIPM Kelas I Yogyakarta, Stasiun KIPM Kelas I Lampung, Stasiun KIPM Kelas I Kendari  Stasiun KIPM Kelas II Bandung, Stasiun KIPM Kelas II Merak, Stasiun KIPM Kelas II Cirebon, dan Stasiun KIPM Kelas II Bima.

4.   BKIPM dan BARESKRIM POLRI berhasil mengungkap kasus penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan. Tujuan pengungkapan kasus ini adalah mengetahui jaringan / para pelaku penjualan, dan distribusi bahan baku seperti ammonium nitrate, potassium nitrate, sumbu api dan detonator, yang digunakan untuk membuat bom ikan. Bahan-bahan tersebut diperjual belikan di wilayah Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Pangkep. Pengungkapan ini dilakukan untuk memutus mata rantainya. Penyelidikan untuk mengungkapkan penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan dilakukan di 1 (satu) tempat kejadian perkara (TKP) yaitu di  Pulau Kerangrang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan  selama periode 3 s/d 7 Juli 2017. Pengungkapan penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan tersebut merupakan hasil kerjasama operasi antara Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dit. Tipidter BARESKRIM  POLRI, Balai Besar KIPM Makassar, dan Balai KIPM Kelas II Mataram. Berdasarkan hasil penyelidikan telah ditetapkan 3 (tiga) orang sebagai tersangka/pelaku. Saat ini, sedang dilakukan proses penyidikan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit. Reskrimum) BARESKRIM POLRI dan  PPNS BKIPM. Hj. SM, H. SD dan MST dengan barang bukti berupa berupa amonium nitrate, sumbu api dan detonator. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap Tersangka H. SD dan MST barang tersebut diperoleh dengan cara membeli dari Hj. Sl.

5.    BKIPM dan BARESKRIM POLRI berhasil menggagalkan penyelundupan  coral sebanyak 57 kasus dengan perkiraan potensi kerugian Negara sebesar Rp 35.388.600.000,- (tiga puluh lima milyar tiga ratus delapan puluh delapan juta enam ratus ribu rupiah). Penindakan terhadap jaringan sindikat penyelundupan coral terjadi di 6 (enam) Unit Pelaksana Teknis (UPT) BKIPM yaitu di  wilayah Balai KIPM Kelas I Denpasar, Balai KIPM Kls II Mataram, Stasiun KIPM Kelas II Bandung, Balai Besar KIPM Makassar, Stasiun KIPM Kelas I Tanjung Pinang, Stasiun KIPM kelas I Kendari,  selama periode 1 Januari s/d 2 Oktober 2017. Adapun negara tujuan ekspor coral tersebut adalah Switzerland, Singapura, Hongkong, Cina. Penggagalan penyelundupan coral tersebut merupakan hasil kerjasama operasi antara Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dit.Tipidter) Badan Reserse Kriminal  (Bareskrim) POLRI dan UPT-KIPM. Modus Operandi penyelundupan coral ke luar negeri yaitu : Pelaku tidak melaporkan kepada petugas karantina ikan/ tanpa dilengkapi dengan dokumen yang dipersyaratkan; Pelaku mencampur coral hias/coral hidup, kerang dan kepiting dengan baju/pakaian yang dibawa dalam koper via bagasi penumpang dan Pelaku membawa coral dengan menggunakan truk dan disimpan dalam boks bersama dengan ikan hias/ ikan ekor kuning.

6.    BARESKRIM POLRI dan BKIPM KKP berhasil membongkar jaringan sindikat penampungan dan penyelundupan lobster di bawah ukuran (under size) melalui operasi gabungan yang di laksanakan di Kediri Jawa Timur dan Denpasar, Bali. Menindaklanjuti laporan masyarakat tentang adanya dugaan telah terjadinya pelanggaran terhadap PERMEN KP.No.56/PERMEN-KP/2016  tentang Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.) dan Rajungan (Portunus pelagicus) yang berat dan ukurannya tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan modus penyimpanan lobster undersize /baby lobster (dibawah 200 gram) yang disimpan di coldstorage milik salah satu Unit Pengolahan di Jawa Timur dan di pergudangan di daerah Denpasar, Bali. Investigasi di Jawa Timur dilaksanakan pada tanggal 12 s/d 14 Agustus 2017 di PT. SPN Jawa Timur. Setelah dilakukan pemeriksaan Tim berhasil menemukan lobster underzise yang tersimpan dan disembunyikan di balik kemasan komoditas lain. Lobster undersize tersebut di kemas dalam kardus rokok gudang garam sebanyak 68 box dengan berat sekitar 680 Kg. Barang bukti diamankan di Instalasi Karantina Ikan Puspa Agro Sidoarjo. Proses hukum selanjutnya dilakukan pengumpulan bahan keterangan untuk dilanjutkan penyidikan oleh PPNS BKIPM.  

Investigasi di Denpasar dilaksanakan pada tanggal 16 s/d 19 Agustus 2017 dan sesuai dengan laporan masyarakat bahwa di daerah Tukad Balian Denpasar Bali terdapat gudang penampungan baby lobster. Setelah dilakukan mapping pada beberapa titik di wilayah Denpasar, Tim berhasil menemukan lokasi gudang penampungan baby lobster di wilayah Denpasar Selatan dan ditemukan baby lobster (lobster undersize)  dengan perincian : lobster hidup undersize sebanyak 457 ekor, lobster bertelur sebanyak 26 ekor, lobster beku undersize sebanyak 89.33 kg.

 Lobster hidup undersize telah dilakukan pelepasliaran di pantai Pandawa, sedangkan

 untuk lobster beku ditahan di kantor BKIPM Denpasar. Proses penyidikan dilaksanakan

 oleh Kepolisian Daerah Bali.

   

 

 

Komentar




Search